Dalam pos

PorosBekasi.com – Harapan warga Bekasi Barat terhadap keberadaan Folder Air Griya Bintara pupus seketika. Infrastruktur pengendali banjir yang baru diresmikan pada Rabu (21/1/2026) itu dinilai belum memberikan dampak nyata.

Sehari setelah peresmian, kawasan Bintara 17, Kelurahan Jakasampurna, justru kembali terendam banjir dengan ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa hingga lantai satu rumah warga.

Genangan yang terus meninggi memaksa sejumlah warga mengungsi. Salah satunya NHA (21), warga Bintara 17, yang menyebut banjir mulai memburuk sejak dini hari hingga siang hari.

“Untuk kondisi banjir, tadi aku terakhir di Bintara 17, itu sudah mencapai pinggang di sekitar jam setengah tiga, jam duaan. Dan sekarang sudah sampai naik lantai satu,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).

Ironisnya, wilayah tersebut sebelumnya telah dilakukan pengurugan sebagai langkah antisipasi banjir. Namun, upaya itu tak mampu menahan laju air yang terus naik.

“Sedangkan rumah daerah sana kan sudah diurug semua, tapi masih tetap naik ke atas sampai ke tangga,” jelasnya.

Terkait keberadaan folder air yang baru diresmikan, NHA mengaku tidak memahami secara teknis fungsi fasilitas tersebut. Namun yang ia rasakan, tidak ada perubahan berarti di lapangan.

“Untuk polder kurang tahu ya, tapi memang tidak ada perubahan apa-apa, karena banjirnya tetap tinggi dan terus naik,” katanya.

Kondisi banjir memaksa NHA bersama keluarganya berpindah ke kawasan Duta Kranji. Namun tempat pengungsian itu pun tak sepenuhnya aman karena air juga mulai masuk ke permukiman.

“Saat ini kami mengungsi ke daerah Duta Kranji, walaupun banjir juga tapi tidak setinggi di Bintara. Kami terpaksa bertahan di dalam mobil bak, karena air juga sudah masuk ke rumah di Duta Kranji jadi tidak bisa istirahat,” ungkapnya.

Kesulitan warga semakin terasa karena aktivitas harian lumpuh total. Akses membeli kebutuhan pokok menjadi terbatas, sementara di rumah NHA terdapat bayi yang membutuhkan perhatian khusus.

“Kita minta tolong untuk banjirnya segera ditangani karena kita mau kemana-mana cukup sulit. Kita ada anak bayi di rumah, susah buat beli makanan, buat beli bahan-bahan lainnya karena banjirnya cukup tinggi,” keluhnya.

Ia berharap pemerintah daerah segera menurunkan pompa air untuk menekan ketinggian banjir yang terus meningkat.

Gagalnya folder air menahan banjir hanya sehari setelah peresmian memunculkan tanda tanya besar soal efektivitas infrastruktur pengendali banjir di Kota Bekasi. Proyek yang digadang-gadang mampu menampung limpasan air hujan itu justru tak berfungsi optimal saat diuji kondisi ekstrem.

Banjir sendiri hampir melumpuhkan sebagian besar wilayah Kota Bekasi. Sejumlah kecamatan terdampak meski anggaran daerah terus dikucurkan setiap tahun untuk penanganan banjir. Namun, perencanaan dan pelaksanaan proyek yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah dinilai belum memberikan hasil maksimal.

Pemerintah Kota Bekasi rutin mengalokasikan APBD untuk pembangunan folder air, pemeliharaan saluran, drainase, turap, normalisasi kali, pembangunan tanggul hingga pengadaan pompa alkon melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA).

Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan upaya tersebut masih belum mampu menjawab persoalan banjir yang terus berulang.

Porosbekasicom
Editor