Dalam pos

PorosBekasi.com – Banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kota Bekasi memunculkan pola lama dalam penanganan bencana. Setiap kali air surut, proyek kembali terbit.

Kali ini, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menginstruksikan pelebaran saluran air yang dinilai menjadi salah satu penyebab utama banjir di wilayah Rawalumbu.

Upaya tersebut mendapat kritik keras. Pasalnya, proyek penanganan banjir yang selama ini digulirkan Pemerintah Kota Bekasi, tak pernah terbukti efektivitasnya.

Utamanya proyek normalisasi dan perbaikan saluran air yang dinilai tidak berdampak signifikan meski menelan anggaran besar.

Ketua Trinusa Bekasi Raya, Maksum Alfarizi alias Mandor Baya, menilai banjir yang terus berulang menunjukkan lemahnya perencanaan dan eksekusi kebijakan penanganan banjir di tingkat wilayah hingga kota.

“Ketika hujan turun sedikit saja, Bekasi langsung banjir. Padahal proyek perbaikan saluran, normalisasi, dan anggarannya itu besar. Artinya apa? Titik-titik rawan banjir itu sebenarnya sudah sangat diketahui oleh lurah dan camat,” katanya, Minggu (18/1/2026).

Ia mengkritik pola kerja aparat wilayah yang dinilai hanya bersifat seremonial setiap musim hujan tiba.

“Setiap tahun musim hujan, lurah dan camat sidak, dicatat, difoto. Tapi bukan sekadar photo-photo selfie. Yang dibutuhkan itu pemikiran dan tindakan, bagaimana titik rawan banjir dijadikan prioritas penanganan. Jangan cuma datang, catat, lalu tidak ada tindak lanjut,” tegasnya.

Lebih jauh, Maksum juga menyinggung minimnya empati aparatur pemerintah terhadap warga terdampak banjir.

“Warga kebanjiran tidak bisa masak, tidak bisa mandi. Minimal bawakan air minum, roti, atau mie instan. Ini yang terjadi justru datang, selfie, lalu laporan ke pimpinan seolah sudah bekerja. Padahal masyarakat tidak merasakan kehadiran negara,” ujarnya.

Porosbekasicom
Editor