Dalam pos

Namun di lapangan, banjir tetap datang. Bahkan, genangan kerap muncul hanya setelah hujan dengan intensitas sedang. Kondisi ini memunculkan kesan kuat, bahwa proyek-proyek penanganan banjir lebih bersifat seremonial dan tidak menyentuh akar persoalan.

“Setiap tahun musim hujan datang, banjir juga datang. Setelah itu baru muncul proyek. Seolah-olah banjir justru menjadi pembenaran untuk mengulang proyek dengan anggaran besar,” ketus Mandor Baya.

Ia juga menyoroti peran aparat wilayah yang dinilai sebatas melakukan inspeksi formalitas. Menurutnya, lurah dan camat sebenarnya sudah memahami titik-titik rawan banjir di wilayah masing-masing, namun tidak diikuti dengan langkah nyata dan prioritas penanganan yang jelas.

“Yang terlihat hanya datang ke lokasi, foto-foto, swafoto, lalu lapor ke pimpinan. Bukan solusi. Bahkan sekadar membawa air minum atau makanan untuk warga terdampak pun tidak,” celetuknya.

Trinusa Bekasi Raya menilai kondisi ini mencerminkan kegagalan sistemik dalam penanganan banjir di Kota Bekasi.

Transparansi anggaran, evaluasi menyeluruh proyek, serta keberanian mengungkap efektivitas pekerjaan DBMSDA dinilai mendesak untuk dilakukan, agar banjir tidak terus menjadi siklus tahunan yang merugikan masyarakat.

Porosbekasicom
Editor