Dalam pos

PorosBekasi.com – Kisah getir seorang juru parkir berinisial MH, yang sudah 21 tahun bekerja di Puskesmas Teluk Pucung, mencuat ke publik setelah gajinya diduga dipotong lebih dari separuh. Namun yang lebih menyakitkan, ketika keluarganya berharap keadilan dari Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, sikap yang ditunjukkan justru dianggap tidak berempati.

Kisah MH viral usai sang anak berinisial Y, mengadukan perihal gaji sang bapak yang selalu dipotong setiap bulan. Y menuturkan bahwa ayahnya seharusnya menerima gaji Rp3 juta per bulan, namun yang sampai ke tangannya hanya Rp1,2 juta.

“Bapak saya kerja 21 tahun di Puskesmas Teluk Pucung. Baru ketahuan sekarang karena dua bulan belakangan ini gaji sudah tidak diterima. Padahal gaji sebenarnya Rp3 juta, tapi bapak saya cuma terima Rp1,2 juta. Katanya Rp1,8 juta dipotong untuk kontribusi ke pusat,” ujarnya dalam postingan video di akun TikTok @mumumauludin, dikutip Rabu 17 September 25.

Ironisnya, selama dua bulan terakhir sang ayah bahkan tidak lagi digaji resmi. Ia hanya bergantung pada uang parkir liar.

“Kalau dapat Rp40 ribu, dibagi dua. Bapak dapat Rp20 ribu, sisanya katanya untuk Dishub,” ungkap Y.

Keanehan lain juga ditemukan. ATM milik MH ternyata tidak pernah ia pegang langsung, melainkan dikuasai pihak lain.

“Kalau bapak mau ambil uang harus minta dulu. ATM bapak tidak pernah dipegang langsung,” kata Y.

Bahkan, pada mutasi rekening terdapat penarikan hingga Rp3 juta, padahal MH tidak pernah menerima gaji dalam dua bulan terakhir.

Pasca videonya viral, Y pun kembali membuat VT yang salah satunya diposting oleh akun TikTok @mamanyarey_7.

Dalam video tersebut, Y mengaku bertemu dengan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto yang saat itu menyambangi Puskesmas Teluk Pucung.

Namun alih-alih mengungkapkan unek-unek, Y dan ayahnya justru buru-buru ditinggal oleh Tri, dengan dalih sudah menerima penjelasan dari pihak puskesmas. Saat ditanya kenapa ada potongan honor sang bapak Rp1,8 juta, Tri menjawab karena potongan absensi.

“Padahal bapak saya gak pernah absen. Bapak saya nggak pernah diajarin absensi finger print. Boleh dicek CCTV, bapak saya gak pernah libur sehari pun, gak pernah telat, karena bapak saya sebelum subuh sudah ke Puskesmas buat nyapu halaman dari ujung ke ujung,” ungkap Y.

Dan seperti kebanyakan kasus wong cilik lainnya, sang bapak akhirnya dipecat dari pekerjaan yang sudah digeluti selama puluhan tahun.

“Bapak saya sudah gak kerja lagi di Puskesmas Teluk Pucung sebagai parkir liar, tanpa ada omongan pecat Tiba-tiba ada orang yang sudah gantiin bapak saya semenjak viral video.

Y pun lantas mempertanyakan kelanjutan masalah ini yang masih belum mendapat kejelasan. Terlebih Tri disebutkan hanya berdialog sepihak dengan pihak puskesmas, tanpa melibatkan sang bapak.

“Kenapa cuma dari pihak bapak sama pihak puskesmas aja, kenapa gak transparan sama keluarga saya, sama bapak saya? Padahal bapak kesini itu berbicara tentang bapak saya, tapi kenapa bapak saya tidak diajak ngobrol?” celetuknya.

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi Pemkot Bekasi, khususnya Wali Kota Tri Adhianto yang dinilai tidak menunjukkan empati kepada rakyat kecil. Sorotan publik kini tertuju pada Dinas Kesehatan Kota Bekasi agar berani membuka fakta sebenarnya dan menegakkan keadilan, bukan justru mengorbankan wong cilik yang setia bekerja puluhan tahun.

Porosbekasicom
Editor